konsep- konsep Geografi
1. Lokasi, adalah konsep utama yang akan digunakan untuk mengetahui fenomena geosfer. Konsep lokasi dibagi atas :
a. Lokasi Absolut, lokasi menurut letak lintang dan bujur bersifat tetap.
b. Lokasi Relatif, lokasi yang tergantung pengaruh daerah sekitarnya dan sifatnya berubah.
2. Jarak, yaitu panjang antara dua tempat. Terdiri antara atas :
a. Jarak Mutlak, satuan panjang yang diukur dengan kilometer.
b. Jarak Relatif, jarak tempuh yang menggunakan satuan waktu
3.
Keterjangkauan, menyangkut ketercapaian untuk menjangkau suatu tempat,
sarana apa yang digunakan, atau alat komunikasi apa yang digunakan dan
sebagainya.
4. Pola, berupa gambar atau fenomena geosfer seperti pola aliran sungai, pola pemukiman, lipatan patahan dan lain-lain.
5.
Morfologi, menunjukkan bentuk muka bumi sebagai hasil tenaga endogen
dan eksogen yang membentuk dataran rendah, dataran tinggi dan
pegunungan.
6. Aglomerasi, pengelompokan fenomena di suatu
kawasan dengan latar belakang adanya unsur-unsur yang lebih memberi
dampak positif.
7. Nilai Kegunaan, manfaat yang diberikan oleh suatu wilayah di muka bumi pada makhluk hidup, tidak akan sama pada semua orang.
8. Interaksi Interdependensi, keterkaitan ruang antara satu dengan yang lain, misalnya interaksi antara desa dengan kota.
9.
Diferensiasi Area, daerah-daerah yan terdapat di muka bumi berbeda satu
sama lain. Dapat dicermati dari corak yang dimiliki oleh suatu wilayah
dengan wilayah yang lainnya.
10. Keterkaitan keruangan, hubungan antara penyebaran suatu unsur dengan unsur yang lain pada suatu tempat.
Konsep Geografi
1. Globalisme
Konsep
ini terwujud dari hasil studi tentang bumi sebagai suatu bentuk
“sphaira” atau bola, dan bumi sebagai bagian dari tata-surya. Bentuk
bumi seperti itu (speroid), peredarannya, dan hubungannya dengan
matahari, menghasilkan kejadian-kejadian penting bagi kehidupan manusia
dan makhluk hidup yang lain. Inklinasi sumbu-sumbu dan revolusi bumi
mengelilingi matahari menghasilkan musim dan zona iklim; rotasi bumi
menimbulkan gejala siang-malam, mempengaruhi gerakan air dan udara.
Studi tentang globe sebagai model (miniatur) dari bumi memberikan dasar
pengertian tentang grid-paralel dan meridian, yang selanjutnya
memberikan pengertian tentang waktu, letak geografis, hakikat skala,
distorsi peta.
Pengetahuan tentang hubungan bumi-matahari, grid, skala, distorsi peta itu sangat mendasar bagi geografi.
2. Diversitas dan Variabilitas
Gejala-gejala
permukaan bumi tidak sama dan tidak tersebar merata, menimbulkan
kebedaan atau diversitas dari tempat ke tempat. Ada tiga buah konsep
penting yang berkaitan dengan pengertian diversitas tersebut, yaitu
pola, kebedaan areal, dan regionalisasi.
a. Pola
Gejala-gejala
alam yang tersebar tidak merata pada permukaan bumi membentuk aneka
ragam pola yang digambarkan pada peta dalam berbagai ragam skala.
Contohnya : pola iklim dunia, pola persebaran gunung-api, pola
pengaliran sungai Jeneberang, pola okupasi manusia (berladang, bertani,
berdagang, industri), pola pemukiman, pola lalu-lintas, dsb. Pola-pola
dari berbagai ragam gejala tersebut dapat digolong-golongkan dan
dipelajari secara sistematis. Gabungan dari berbagai macam pola di
suatu tempat atau wilayah akan menentukan ciri-ciri tertentu dan
memberikan corak khas dari berbagai area. Keadaan areal yang
berbeda-beda tersebut menjadi perhatian para ahli geografi.
b. Kebedaan Areal
Kebedaan
areal merupakan konsep dasar geografi. Pada umumnya kebedaan areal
tersebut mengacu kepada variabilitas dari permukaan bumi. Tidak ada dua
tempat atau kawasan di dunia ini yang identik sama.
Geografi
terwujud karena hasrat manusia untuk mengerti tentang kebedaan
(diversitas) dari permukaan bumi, yaitu kebedaan areal. Dunia ini
terdiri dari tempat-tempat dan kawasan yang berbeda satu sama lain
sebagai akibat dari kejadian paduan (konfigurasi) gejala-gejala yang
berada di atasnya.
c. Regionalisasi
Sungguhpun tidak ada dua
tempat yang persis sama, namun ada wilayah-wilayah geografis yang
sedikit-banyak memiliki kesamaan. Wilayah yang relatif sama atau
homogen itu disebut kawasan atau region.
Lingkup kawasan (region)
ditentukan oleh dasar alasan yang berbeda-beda, tergantung tujuan
penyelidikan. Ada yang dasarnya kesamaan tunggal, misalnya penduduk;
ada yang berdasarkan kesamaan jamak seperti iklim, vegetasi serta
pertanian. Kawasan juga dapat disatukan berdasarkan intensitas
hubungan. Kawasan fungsional demikian itu, contohnya sebuah pusat
perdagangan di sebuah kota. Batas-batas kawasan merupakan zona yang
relatif sempit (jadi bukan garis), dimana beberapa gejala atau
kombinasi beberapa gejala menandai batas tersebut. Kedudukan
batas-batas kawasan dapat berubah-ubah dari tempat ke tempat.
Regionalisasi merupakan alat untuk dapat melakukan deskripsi dan
memiliki pengertian tentang aneka-ragam kawasan dalam kurun waktu
tertentu. Adapun geografi yang mempelajari kawasan atau region tersebut
diberi nama Geografi Wilayah atau Geografi Regional.
3. Lokasi Keruangan dan Areal
a. Ruang-bumi
Aristoteles
percaya bahwa ruang merupakan kondisi logis bagi tercapainya
gejala-gejala. Newton menganggap ruang sebagai “wadah” dari obyek.
Berkley melihat ruang sebagai konsep mental berdasarkan koordinasi
penglihatan dan pendengaran kita. Leibniz mengartikan nilai sebagai
suatu gagasan yang kita ciptakan agar dapat menstruktur hubungan di
antara obyek-obyek yang kita pelajari. Bila obyek ditiadakan, maka
ruang akan lenyap. Jadi menurut Leibniz, ruang bersifat subyektif dan
relatif. Pernyataan kita tentang ruang sangat berbeda-beda berdasarkan
latar-belakang ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Bagi geografi,
yang dimaksud dengan ruang ialah ruang bumi, dan yang diartikan sebagai
“wadah” dari gejala-gejala maupun sebagai ciri dari obyek atau
gejala-gejala yang secara subyektif kita ciptakan. Ruang bumi diisi
oleh segala macam benda, obyek, atau gejala material dan non material
yang terwujud pada permukaan bumi. Asosiasi yang kompleks dari
perwujudan berbagai gejala material dan non material itu merupakan
hasil dari proses perubahan yang kontinyu (berkelanjutan) merupakan
hasil proses dari urutan-urutan kejadian. Ada proses fisik, proses
biotik, dan juga proses budaya. Proses-proses tersebut saling
berinteraksi membentuk aneka ragam paduan (konfigurasi) gejala pada
permukaan bumi, merupakan sistem manusia-lingkungan (men-environment
system) yang disebut juga sebagai sistem keruangan (spatial system).
b. Situs
Situs
(site) erat hubungannya dengan suatu gejala pada suatu letak fisis
(physical setting) pada areal yang ditempatinya. Karena itu untuk
mengerti tentang situs perlu pula mengerti tentang gejala-gejala fisis
yang terdapat pada setiap kawasan atau region.
Gejala-gejala yang biasanya diselidiki oleh geografer dalam menguraikan dan menilai suatu situs ialah:
1) Bentuk-bentyuk permukaan (dataran rendah, pebukitan, pegunungan, lembah, plato, pulau, semenanjung, dsb.).
2) Perairan (perairan air sungai dan air laut, drainage, sungai, danau, rawa, lautan, dsb.).
3) Iklim (suhu, kelembaban, angin, curah hujan).
4) Tanah dan materi tanah.
5) Vegetasi (hutan, padang rumput, sabana, mangrove, dsb.).
6) Mineral (minyak bumi, batubara, emas, dsb.).
7)
Situasi (situation), menjelaskan gejala dalam hubungannya dengan gejala
lain. Misalnya hubungan tempat dengan tempat. Dalam hal ini diperlukan
konsep jarak dan arah, juga hubungan fungsional antar tempat atau
wilayah.
Isi lokasi bukanlah sekedar posisi atau kondisi atau
situasi arah dan jarak yang menyangkut tempat atau wilayah, tetapi juga
menyangkut persebaran dari gejala-gejala pada permukaan bumi
c. Ketersangkutpautan (interelatedness)
Para
ahli geografi percaya akan adanya kebersangkut-pautan di antara
tempat-tempat pada permukaan bumi dan gejala-gejala pada suatu area.
Istilah-istilah seperti interdependensi, interkoneksi, interaksi
keruangan, dan assosiasi areal menguraikan dan menjelaskan saling
hubungan antar tempat dan antar gejala pada permukaan bumi.
1) Assosiasi areal
Assosiasi
areal menyatakan identifikasi kepada hubungan sebab akibat (kausalitas)
antara gejala manusia dengan lingkungan fisiknya, yang menimbulkan
ciri-ciri yang berbeda-beda pada berbagai tempat dan wilayah. Preston
James menganggap konsep ini sebagai inti dari mana teori-teori geografi
terbentuk. Penekanan dari konsep assosiasi ialah menunjuk kepada adanya
kombinasi atau paduan (konfigurasi) dari gejala-gejala yang dapat
menimbulkan kebedaan dari tempat ke tempat. Contoh sederhana dari
peristiwa ini ialah hubungan antara persebaran penduduk dengan faktor
kelembaban lingkungan.
2) Interaksi keruangan
Merupakan
saling hubungan antara gejala-gejala pada tempat-tempat dan area-area
yang berbeda-beda di dunia. Semua tempat pada permukaaan bumi itu
diikat oleh kekuatan alam dan manusia (sumberdaya alam dan sumberdaya
manusia). Terjadi gerak dari gejala-gejala tersebut dari tempat ke
tempat; udara, air laut, tumbuhan dan hewan, serta manusia. Setiap
kejadian berkenaan dengan hal itu akan mencerminkan adanya interaksi
antar tempat. Manusia sebagai “pencipta” ilmu dan teknologi mampu
berinteraksi dan bergerak dalam ruang secara leluasa melalui komunikasi
dan transportasi. Migrasi dan bentuk-bentuknya misalnya terjadi di
mana-mana dan menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap
kehidupan sosio-budaya manusia. Semua itu menimbulkan
peredaran/sirkulasi gejala-gejala secara intensif di seluruh ruang di
dunia.
(a) Peredaran atau sirkulasi : menyangkut gerak dari
gejala fisik, manusia, barang, dan gagasan (ide) ke seluruh penjuru
dunia. Meliputi antara lain difusi kebudayaan, distribusi, perdagangan,
migrasi, komunikasi dan lain sebagainya.
(b) Interdependensi :
Merupakan bentuk saling-hubungan karena peredaran gejala-gejala. Dalam
interdependensi, kadar ikatannya lebih kuat dan lebih nyata daripada
peristiwa interrelasi. Dunia sekarang sebenarnya merupakan
masyarakat-masyarakat dunia dengan saling ketergantungan yang kuat di
antara negara-negara (Asean, MEE, PBB).
(c) Perubahan : Salah satu
aspek paling penting di dalam geografi dunia ialah ciri dinamika dari
gejala-gejala. “Panta Rhei” kata Heraklites, yang artinya “semua
mengalir”. Memang di dunia ini tidak ada yang diam mutlak; apakah itu
gejala alami maupun gejala buatan manusia. Manusia bersama alam
mengubah ciri-ciri dari bumi.
Geografi merupakan studi tentang masa
kini. Tetapi untuk mengetahui masa sekarang, perlu mengetahui pula masa
lalu (sejarah). Dalam hal ini geografi melakukan rekonstruksi
kejadian-kejadian. Perubahan yang tercantum pada peta menunjuk kepada
perubahan tempat dan wilayah pada permukaan bumi.
Erat hubungannya
dengan konsep perubahan, ialah konsep proses. Proses ialah kejadian
yang berurutan yang menimbulkan perubahan, dalam batas waktu tertentu.
Permukaan bumi ini menjadi begitu kompleks karena adanya proses-proses
dalam berbagai tingkat dan tempo (Preston James). Ada tiga macam
proses, yaitu proses fisik, proses biotik, dan proses sosial. Di dalam
geografi ketiga macam proses tersebut dalam kenyataannya adalah satu
proses utuh; penggolongan tersebut (analisis kategori) hanya berlaku
dalam penyelidikan dan kajian saja.
e. Wilayah Kebudayaan
Salah
satu konsep dari Geografi modern ialah menyangkut penyesuaian dan
pengawasan manusia (kontrol) terhadap lingkungan fisiknya. Keputusan
yang diambil manusia tentang penyesuaian dan pengawasan terhadap
lingkungan fisis tersebut sangat ditentukan oleh pola kebudayaan yang
dimiliki oleh masing-masing masyarakat. Kebudayaan dapat diartikan
secara sempit dan secara luas. Secara sempit sebagai aspek yang menarik
seperti kesenian, tata-krama, ilmu dan teknologi. Secara luas
kebudayaan diartikan sebagai hasil dari daya akal atau daya budi
manusia yang merupakan keseluruhan yang kompleks menyangkut
pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, hukum dan lain-lain.
Kemampuan atau kebiasaan yang dipelajari manusia sebagai anggota
masyarakat (E.B.Taylor).
Di dalam Geografi, kebudayaan diartikan
secara luas. Herskovits mengartikannya sebagai “man-made part of the
environment”, sedang C.Kluckhohn sebagai “way of live”. P.V. de la
Blache menyebutnya sebagai “genre de vie”, yaitu tipe-tipe proses
produksi yang dipilih manusia dari kemungkinan-kemungkinan yang
diberikan oleh tanah, iklim, dan ruang yang terdapat pada suatu wilayah
atau kawasan, serta tingkat kebudayaan (dalam arti sempit) di wilayah
tersebut.
(buta geografi). Bahwa semua cabang ilmu pengetahuan
empiris yang masing-masing mempelajari gejala (phenomena) di permukaan
bumi tanpa memahami dan peduli sistem interrelasi, interaksi, dan
interdependensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan)
itu dengan manusia pasti akan membuat kerusakan di muka bumi.
Geografi
tetap konsisten dengan obyek studinya yaitu melihat satu kesatuan
komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di
permukaan bumi, mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk
integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Geografi pun
mengajarkan kearifan teknologi dalam mengelola alam lingkungan hidupnya
manusia.
Konsep adalah pengertian-pengertian yang menunjuk
pada sesuatu. Konsep essensial suatu bidang ilmu merupakan
pengertian-pengertian untuk mengungkapkan atau menggambarkan corak
abstrak fenomena essensial dari obyek material bidang kajian suatu
ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen penting dalam
memahami fenomena yang terjadi.
1. Konsep Lokasi
Terdapat
dua pengertian lokasi yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif. Yang
dimaksud dengan lokasi absolut adalah lokasi yang berhubungan dengan
posisi menurut koordinat garis lintang dan garis bujur. Contoh :
Indonesia terletak diantara 60 LU-110 LU dan diantara 950 BT-1410 BT.
Sedangkan
yang dimaksud dengan lokasi relatif adalah lokasi berdasarkan
lingkungan sekitarnya. Contoh : Indonesia terletak antara Benua Asia
dan Australia.
2. Konsep Jarak
Dalam kehidupan sosial
ekonomi, jarak memiliki arti penting. Dalam geografi jarak dapat diukur
dengan dua cara, yaitu jarak geometrik dinyatakan dalam satuan panjang
kilometer dan jarak waktu yang diukur dengan satuan waktu(jarak tempuh).
3. Konsep Keterjangkauan/Accessibility
Sulit
atau mudahnya suatu lokasi untuk dapat dijangkau dipengaruhi oleh
lokasi, jarak dan kondisi tempat. Misalnya, suatu daerah pedalaman yang
hanya terdapat jalan setapak tentu merupakan daerah yang sulit dapat
dijangkau.
4. Konsep Pola
Pola merupakan tatanan
geometris yang beraturan. Contoh, penerapan konsep pola adalah pola
permukiman penduduk yang memanjang mengikuti jalan raya atau sungai.
5. Konsep Geomorfologi
Yang
dimaksud geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk
permukaan bumi. Ilmu geografi tidak terlepas dari bentuk-bentuk
permukaan bumi, seperti pegunungan, perbukitan, lembah dan dataran. Hal
inilah yang menyebabkan permukaan bumi merupakan obyek studi geografi.
6. Konsep Aglomerasi
Aglomerasi
merupakan kecenderungan pengelompokan suatu gejala yang terkait dengan
aktivitas manusia. Misalnya pengelompokan kawasan industri, pusat
perdagangan dan daerah pemukiman.
7. Konsep Perbedaaan Wilayah
Terdapat
perbedaan antara wilayah satu dengan wilayah lain. Perbedaan ini
kemudian menimbulkan suatu hubungan atau interaksi suatu wilayah dengan
wilayah lainnya.
8. Konsep Nilai Kegunaan
Nilai kegunaan suatu sumber bersifat relatif.
Misalnya
pantai mempunyai nilai kegunaan yang tinggi sebagai tempat rekreasi
bagi warga kota yang selalu hidup dalam keramaian, kebisingan dan
kesibukan.
9. Konsep Interaksi
Interaksi merupakan
terjadinya hubungan yang saling mempengaruhi antara suatu gejala dengan
gejala lainnya. Contohnya adalah perbedaan kondisi antara daerah
pedesaan dan perkotaan yang kemudian dapat menimbulkan suatu kegiatan
interaksi seperti halnya penyaluran kebutuhan pangan, arus urbanisasi
maupun alih tehnologi.
10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan
antara suatu fenomena dengan fenomena lainnya merupakan suatu
keterkaitan keruangan. Misalnya hubungan antara kemiringan lereng di
suatu wilayah dengan ketebalan lapisan tanah serta hubungan antara
daerah kapur dengan kesulitan air.
Banyak ahli geografi
mengajarkan dan terus mencari konsep yang relevan atas kehidupan
sehari-hari. Pengetahuan geografi ini penting untuk memahami apa saja
yang kita kerjakan setiap hari atau pada saat-saat tertentu, dan
bagaimana kegiatan rutin sehari-hari (seperti berangkat ke tempat
kerja/sekolah) mempengaruhi lingkungan sekeliling kita (misalnya
kemacetan, atau polusi udara yang memberi sumbangan pada pemanasan
global). Penekanan ini membawa kegiatan sehari-hari pada konteks yang
lebih besar - terutama konteks keruangan - sehingga meningkatkan
kesadaran kita pada kegiatan dan kehidupan pribadi, dan konteks
sosio-spatial mulai dari skala kecil (lingkungan tempat tinggal) sampai
skala besar (global). Kita sering beranggapan bahwa kita tidak perlu
mempelajari geografi karena toh kita sudah "tahu". Praktisi geografi
yang naif menganggap "Geografi lebih banyak merupakan pengetahuan umum"
- mereka bahkan menunjukkan bahwa pengetahuan geografi mereka yang naif
adalah salah atau sangat tidak lengkap (lihat saja kuis-kuis yang
banyak di televisi seperti "Kuis Siapa Berani" atau "Who Wants to be a
Millionaire"). Banyak orang tidak ingin mempercayai bahwa mereka harus
mengetahui konsep geografi seperti lokasi, pengenalan tempat,
penghitungan jarak, persebaran dan konteks regional. Untuk
menggambarkan kelemahan keadaan ini, penulis akan memberikan contoh
yang menunjukkan bahwa ternyata masyarakat menerapkan geografi - bahkan
jika mereka tidak tahu bahwa mereka melakukannya. Berikut adalah daftar
kegiatan yang kita semua lakukan.
Hal-hal berbau geografis yang anda lakukan :
1.Memilih di mana anda tinggal.
2.Memilih bagaimana atau lewat mana anda pergi ke tempat kerja.
3.Mencari di mana pasar, supermarket, pertokoan, dokter atau sekolah terdekat.
4.Memilih tempat berlibur dan bagaimana cara pergi ke sana.
5.Memahami
perubahan lingkungan lokal dan global sehingga mempengaruhi jenis
pakaian apa yang anda akan bawa/beli jika anda akan mengunjungi suatu
tempat.
6.Pada sebuah perjalanan yang panjang dengan kendaraan
sendiri, memperkirakan di mana kota yang cukup besar sehingga anda akan
bisa mencari penginapan untuk beristirahat.
7.Mengetahui dimana restoran masakan etnis/negara tertentu berada dalam sebuah kota.
8.Mengetahui lokasi yang disebutkan pada siaran berita baik nasional maupun internasional.
9.Menyiapkan materi-materi yang dibutuhkan untuk pergi ke suatu tempat (nasional maupun internasional) misalnya untuk pekerjaan.
10.Berjalan-jalan di sekitar rumah dan kembali dengan selamat.
11.Mencari mobil anda di tempat parkir.
12.Berjalan di rumah anda dalam keadaan gelap - misalnya karena mati listrik - tanpa menabrak perabotan atau tembok.
13.Mencari jalan kembali ke hotel di kota yang baru pertama kali anda kunjungi.
14.Mencari di mana tempat rekreasi.
15.Memilih tim olahraga (sepakbola, basket) yang anda sukai.
16.Memilih koran yang akan anda beli.
17.Mengerti akan interaksi internasional dan aliran barang yang membuat barang konsumsi anda tetap segar di toko langganan anda.
18.Mengetahui apakah Padang lebih utara atau selatan dibandingkan Samarinda.
19.Mengerti mengapa sulit membangun rumah di tempat berlereng dengan tanah yang tidak stabil.
20.Bertanya-tanya
kenapa orang tetap saja tinggal di tempat yang sering kebanjiran,
kebakaran, gempa bumi, emisi listrik tegangan tinggi atau terkena
polusi industri.
Penulis mencoba menjabarkan beberapa konsep geografi dan konsep spatial dari daftar di atas menjadi sebagai berikut :
1.Masalah
Lokasi : Di mana saya parkir ? Mungkin ini pertanyaan yang paling
sering (dan menjengkelkan) dijumpai dan merupakan salah satu pengenalan
lokasi - hal mendasar dalam geografi.Geografi adalah ilmu yang
menekankan pada lokasi dan tempat. Mempelajari pola kota-kota di Jawa
Tengah, perladangan di Kalimantan, pertambangan emas di Afrika Selatan
atau sumber berjangkitnya penyakit di Jakarta secara esensi sama dengan
mencari lokasi sekolah untuk anak anda, toko, tempat rekreasi, masjid,
gereja, dan restoran. Kita menyerap informasi ini secara visual dari
siaran berita televisi atau iklan, kita mendapatkan deskripsi tertulis
dari koran, jurnal, majalah, kita mendengar lewat siaran radio, atau
mungkin mendapatkan informasi itu dari teman, tetangga atau karena
melihat langsung saat melewati tempat-tempat itu. Informasi yang kita
serap tentang tempat dan lokasinya itu geografis - merujuk pada suatu
tempat. Saat kita terlibat percakapan tentang suatu peristiwa yang
sedang hangat, kita mengutip informasi yang diambil dari memori otak
kita, atau yang sudah diolah dengan proses informasi spatial. Ini
membutuhkan integrasi dari sejumlah informasi spatial yang berbeda
sehingga memberikan pengertian yang lebih baik atas suatu masalah.
Jadi, dimana anda parkir tadi ? Apakah dekat dengan tanda tertentu ?
Apakah di blok atau lantai tertentu ? Apakah dekat dengan pintu masuk
tempat parkir ? Apakah menghadap jalan atau menghadap gedung ? Apakah
dekat atau jauh dengan pintu masuk gedung ? Dari mana anda masuk ke
gedung tersebut ? Dari mana keluarnya ? Untuk menjawab pertanyaan ini
melibatkan pencarian pada "mental map" yang sudah terbentuk dari
pengalaman anda atau dari yang anda lihat. Dan apa yang lebih simbolis
pada pemikiran geografis dari pada membuat (pada memori anda) dan
menggunakan peta untuk memecahkan masalah lokasi anda ? Fakta sederhana
ini mengubah dunia teknologi informasi. Informasi menjadi
ber-"georeferensi" pada derajat yang terus meningkat: mempelajari sifat
keruangan inilah yang merupakan jantung dari Ilmu Informasi Geografis,
dan teknologi SIG/GIS menggunakan metafora geografis dan keruangan
sebagai antarmuka dan mesin pencari atas data yang bisa diakses secara
digital.
2.Meng-overlay sejumlah informasi : Mencari tempat
untuk tinggal adalah hal yang diperlukan semua orang. Keterlibatan
geografi menjadi sangat penting dalam hal ini. Di mana anda mencari ?
Dalam konteks hubungan lokasional antara tempat tinggal dan tempat
kerja, geograf mendapatkan bahwa kedekatan spatial ke tempat kerja
sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, selebihnya dipengaruhi
oleh faktor ekonomi, sosial dan hambatan lainnya. "Ketidakcocokan
spatial" terjadi jika seseorang harus tinggal jauh dari tempat dia
kerja - misalnya seseorang harus tinggal jauh dipinggir atau bahkan di
luar kota karena tidak mampu menyewa atau membeli rumah yang dekat
dengan tempat kerjanya. Bahkan keadilan sosial didasarkan atas konsep
geografis dan informasi geografis.
Di Amerika Serikat, jika kita
ingin mencari tempat tinggal, agen dari perumahan akan bertindak
sebagai perantara yang membantu memberikan beberapa alternatif (untuk
disewa atau dibeli). Mereka mempelajari ekonomi, sosial, budaya, usia,
pendapatan dan karakteristik keluarga calon pembeli dan mencocokkannya
dengan kualitas rumah dan karakteristik lingkungan. Tetapi jika kita
lihat lagi, ada sejumlah paradoks geografis yang menarik. Misalnya,
harga tanah di sebagian besar daerah yang terletak di pusat kota sangat
tinggi karena lokasinya dan kemudahannya mencapai daerah lainnya di
kota tersebut. Tetapi ternyata bagian pusat kota lebih banyak dihuni
oleh penduduk yang berpendapatan sedikit. Mereka rela tinggal di areal
tempat tinggal yang sempit dan berdesak-desakan beberapa keluarga (pada
suatu apartemen atau rumah). Paradoksnya - seperti dinyatakan oleh
ilmuwan regional William Alonso sekitar lima puluh tahun yang lalu -
adalah di banyak kota penduduk yang berpendapatan sedikit menempati
daerah yang paling mahal dan terpaksa menggunakan sedikit tempat dengan
basis perkapita, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang tinggi di
bagian itu, sedangkan penduduk yang berpendapatan tinggi tinggal di
daerah yang lebih murah ke arah pinggir kota tetapi lebih luas,
sehingga kepadatan penduduk di daerah itu (pinggir kota) menjadi lebih
rendah dibanding di pusat kota. Hasilnya adalah "gradien kepadatan"
penduduk menurut jarak dari pusat kota dan satu dari generalisasi yang
banyak digunakan oleh para geograf tentang fenomena distribusi spatial
- bahwa kejadian dari banyak hubungan menunjukkan pengurangan menurut
jarak atau penurunan frekuensi atas jarak dari pusatnya. Generalisasi
ini juga berlaku pada frekuensi migrasi, panggilan/penggunaan telepon,
dan banyak kegiatan lainnya.
Hasilnya adalah kepadatan penduduk
yang tinggi di bagian paling tengah kota dan kepadatan rendah di
pinggir kota - fakta yang mudah diamati dari kehidupan sehari-hari
tetapi kita tidak sadar bahwa itu termasuk geografi. Geograf atau ahli
geografi, mencoba memahami lingkungan kota dan membakukan "pengetahuan
umum" ini dengan membangun teori dan membuat kebijakan darinya. Dengan
demikian, kejadian sehari-hari yang "kita semua tahu", tetapi
membutuhkan pengetahuan yang formal untuk menyatakan dan mempengaruhi
kebijakan kota, mencapai kelengkapan dengan menanyakan pertanyaan
geografi sederhana - di mana orang tinggal dan mengapa di sana ?
3.Di
mana saya ? Mengetahui di mana anda berada sangat penting dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, tidak mengetahui di mana anda
berada berarti anda tersesat. Seorang penglaju yang menggunakan KRL
mungkin tidak akan begitu peduli di mana dia berada saat dalam
perjalanan. Tetapi lupa akan sebuah penanda yang menjadi petunjuk
lokasi secara absolut atau relatif di mana dia berada akan membuat
perjalanannya menjadi kacau - misalnya terlewat atau mungkin belum
sampai tetapi sudah turun - dan memaksa untuk mencari tahu lagi untuk
mencapai tujuan. Contoh lainnya, mengetahui di mana anda berada,
mencari arah ke tempat fasilitas umum, memilih aktivitas (misalnya,
daerah/bank/toko mana yang harus dikunjungi), kegiatan sosial
(misalnya, Apakah sekarang lebih dekat ke rumah teman atau ke bioskop
?), atau kegiatan lainnya baik sudah atau belum direncanakan yang
bergantung pada pengetahuan anda atas lokasi anda berada.
Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.
2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.
3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.
4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.
5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.
6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.
9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.
10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.
1. Konsep Lokasi
Konsep ini berkaitan dengan letak suatu tempat di permukaan bumi.
Konsep ini terbagi menjadi dua yaitu:
a. Lokasi Absolut : Lokasi yang tetap dan tidak berubah ubah.
Contoh: Suatu tempat dilihat dari garis lintang dan garis bujur.
b. Lokasi Relatif : Lokasi yang berubah dipengaruhi oleh faktor tertentu.
Contoh: Bali dulu termasuk waktu indonesia bagian barat, sekarang termasuk waktu wilayah indonesia tengah.
2. Konsep Jarak
Konsep ini berkaitan dengan Jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain.
Konsep ini terbagi menjadi dua yaitu:
• Jarak Absolut: Jarak yang diukur dengan satuan ukur
Contoh: jakarta sampai ke karawang = 63km
• Jarak Relatif: Jarak yang berkaitan dengan faktor waktu, ekonomi,dll.
Contoh: Satu jam pelajaran = 45 menit
3. Konsep Keterjangkauan
Hubungan
antara satu tempat dengan satu tempat yang lain dikaitkan dengan
keadaan permukaan bumi dan tersedianya sarana dan prasarana angkutan
atau alat komunikasi. (Mudah/Sulitnya suatu lokasi untuk dijangkau).
Contoh : Sarana angkutan kota terhadap kehidupan manusia
4. Konsep Pola
Konsep ini berkaitan dengan persebaran fenomena geosfer dipermukaan bumi.
Contoh: Persebaran jenis flora,fauna,dll
5. Konsep Morfologi
Konsep ini berkaitan dengan bentuk pemukaan bumi, sebagai akibat dari tenaga endogen dan eksogen.
Contoh: Pegunungan, lembah,dll yang dimanfaatkan bagi kehidupan manusia
6. Konsep Aglomerasi
Konsep ini berkaitan dengan pemusatan, penimbunan, pengelompokan pada suatu tempat atau kawasan.
Contoh : Kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep Nilai Kegunaan
Konsep
ini berkaitan dengan nilai guna tempat-tempat dipermukaan bumi
berkaitan dengan manfaat dari fenomena yang ada dan bersifat relatif
Contoh : Nilai guna daerah pegunungan, laut, sungai, bagi setiap orang.
8. Konsep Interaksi dan Interdependensi
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala dimuka bumi.
Contoh : Perbedaan desa dan kota
9. Konsep Deferensi Areal (Perbedaan Wilayah)
Fenomena
yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Konsep ini
berkaitan dengan perbedaan corak antara wilayah dipermukaan bumi dengan
ciri-ciri khusus yang membedakan dengan daerah lain atau disebut region.
Contoh: Corak khas wilayah pedesaan
10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena lain disuatu tempat atau ruang.
Contoh: Daerah pantai pendudukya bermata pencaharian sebagai nelayan karena dekat laut.
Pembangunan pabrik semen perlu memperhatikan keberadaan gunung batu kapur, sarana transportasi, dan pemasaran.
Konsep Geografi yang berkaitan dengan hal itu adalah…..
A. konsep diferensiasi area
B. konsep interaksi/independensi
C. konsep keterkaitan keruangan
D. konsep keterjangkauan
E. konsep lokasi
Kupasan:
● Soal ini mengacu pada:
- Standar Kompetensi Lulusan (SKL) 1:
Menganalisis hakikat, obyek, ruang lingkup, prinsip, konsep,
aspek, dan pendekatan Geografi.
- Kemampuan Yang Diuji (KYD):
Menjelaskan penggunaan konsep dasar dan pendekatan
Geografi dalam rangka memahami fenomena geosfer.
- Materi: Konsep Geografi.
- Kelas/semester: X/1.
●Indikator soal:
Disajikan stimulus tentang pembangunan pabrik semen perlu
memperhatikan keberadaan gunung kapur, sarana transportasi,
dan pemasaran, siswa dapat mengemukakan konsep Geografi
yang dimaksud.
● Ranah: kognitif—penerapan (C3).
● Tingkat kesulitan soal: sedang.
● Stimulus, stem/kalimat soal dan pilihan jawaban yang disajikan
mudah dimengerti oleh siswa, instruktif dan operasional.
● Penekanan soal tersebut terletak pada konsep keterkaitan
keruangan. Konsep keterkaitan keruangan adalah: konsep yang
menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena
dengan fenomena yang lain di suatu tempat atau ruangan, baik
yang menyangkut fenomena alam, tumbuh-tumbuhan, maupun
sosial. Konsep ini disebut pula dengan konsep asosiasi keruangan
(Bambang Nianto Mulyo dan Purwadi Suhandini, 2007:10—11).
Derajat keterkaitan yang dimaksud adalah adanya keterkaitan
antara fenomena pembangunan pabrik semen yang tidak bisa
dipisahkan dengan fenomena keberadaan gunung batu kapur,
sebab bahan mentah/bahan baku pabrik semen adalah batu kapur.
Di sisi lain pembangunan pabrik semen terkait pula dengan
fenomena sarana transportasi untuk mengangkut bahan
mentah/bahan baku dari gunung batu kapur menuju pabrik di
satu sisi, dan untuk mengangkut semen hasil produksi pabrik
tersebut menuju pasar. Untuk bisa menjual produksinya, pabrik
tersebut juga terkait adanya fenomena pemasaran. Laku tidaknya
semen yang diproduksi pabrik tersebut terkait dengan fenomena
pemasaran yang ada.
● Dengan demikian soal tersebut jawabannya adalah: C.
● Tambahan:
Untuk mempertegas hal di atas, perlu ditambahkan pengertian
dari masing-masing konsep yang dijadikan pilihan jawaban pada
soal nomor 1 untuk paket A dan nomor 2 untuk paket B,
khususnya untuk pilihan jawaban A, B, D, dan E.
- Konsep diferensiasi area adalah konsep dalam Geografi yang
digunakan untuk mempelajari perbedaan gejala Geografi antara
daerah/wilayah yang satu dengan lainnya di permukaan Bumi
yang berpengaruh pada aktifitas manusia.
Contoh: batuan induk penyusun daerah Malang Utara berbeda
dengan batuan induk penyusun daerah Malang Selatan. Batuan
induk penyusun daerah Malang Utara adalah batuan induk
vulkanis, sedang Malang selatan batuan induknya adalah batuan
kapur (karst).
- Konsep interaksi/interdependensi adalah konsep dalam
Geografi yang digunakan untuk mempelajari adanya hubungan
timbal balik dan saling ketergantungan antara suatu
daerah/wilayah dengan daerah/wilayah lainnya.
Contoh: hubungan timbal balik dan saling ketergantungan
antara desa dengan kota. Desa menghasilkan bahan pokok dan
bahan mentah/bahan baku yang dibutuh oleh kota, sedang kota
menghasilkan barang-barang industri yang dibutuhkan oleh
desa. Lantaran itulah kedua wilayah tersebut saling
membutuhkan hingga terjadilah interaksi/interdependensi antara
masyarakat desa dengan masyarakat kota.
- Konsep keterjangkauan adalah konsep dalam Geografi yang
digunakan untuk mempelajari hubungan melalui transportasi
dan komunikasi suatu daerah/wilayah yg dipengaruhi oleh
faktor jarak, kondisi medan (kondisi daerah/wilayah), dan
ada/tidak adanya sarana angkutan dan komunikasi yang
berpengaruh pada aktifitas manusia. Berdasarkan hal ini ada
daerah/wilayah/tempat yang mudah dijangkau dan ada pula
daerah yang sulit dijangkau (sering disebut daerah
terasing/terisolasi/terpencil). Konsep ini sering pula disebut
dengan konsep aksesibilitas (accessibility).
Contoh: daerah-daerah di pedalaman Papua merupakan daerah-
daerah yang sulit dijangkau, mengingat daerahnya
berpegunungan tinggi (berelief sangat kasar) sehingga pesawat
terbang perintis merupakan sarana transportasi penting. Itupun
hanya pada jam-jam tertentu ketika cuaca tidak berkabut.
Sebaliknya Jakarta dapat diakses dengan berbagai sarana
transportasi dan komunikasi secara mudah dan cepat.
- Konsep lokasi adalah konsep dalam Geografi yang digunakan
untuk menjelaskan letak/posisi suatu gejala Geografi di
permukaan Bumi yang berpengaruh pada aktifitas manusia.
Konsep lokasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Lokasi absolut, ialah konsep lokasi yang berdasarkan
grid/koordinat (sering pula disebut letak astronomis), bersifat
mutlak/tetap. Untuk daerah yang relatif sempit menggunakan
1 (satu) garis lintang dan 1 (satu) garis bujur, sedang untuk
daerah/wilayah yang relatif luas menggunakan 2 (dua) garis
lintang dan 2 (dua) garis bujur.
Contoh: lokasi absolut Kota Malang adalah 8°LS dan
112°30’BT, sedang lokasi absolut Indonesia adalah antara
6°LU--11°LS dan 95°BT--141°BT.
b. Lokasi relatif, ialah konsep lokasi yang berdasarkan keadaan
sekitarnya atau juga berdasarkan peninjaunya, sehingga letak
ini bisa berubah-ubah. Lokasi relatif ini sering pula disebut
letak Geografis.
Contoh: Kota Malang terletak di sebelah selatan Kota
Surabaya dan terletak di sebelah utara Kepanjen. Contoh lain,
Indonesia terletak antara benua Asia dan benua Australia dan
terletak antara samudera Pasifik dan samudera Hindia.
Sumber:
1. Akhwan Nurhasan, dkk. 2009. Geografi (Lembar Kerja dan Tugas Siswa. Surabaya: Bintang Karya.
2. Gunawan Totok, dkk. 2007. Fakta dan Konsep Geografi. Jakarta: Inter Plus.
3. Harmanto Gatot. 2008. Geografi Bilingual. Bandung: Yrama Widya.
4.
Nianto Mulyo Bambang dan Suhandini Purwadi. 2004 & 2007. Kompetensi
Dasar Geografi 1. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
5. S. Sri Lestari. 2007. Geografi untuk SMA dan MA Kelas X. Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa.
6. Sudarsono Agus. 2009. Geografi Kontekstual. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
7. Udayanti Atik dan Effendi Johan. 2008. Seri Pendalaman Materi Geografi SMA dan MA. Jakarta: Erlanga.
Pengertian Konsep Geografi
Konsep
geografi(Nursid Sumaatmadja) adalah pola abstrak yang berkenaan dengan
gejala-gejala konkret tentang Geografi. Pada dasarnya konsep geografi
terbagi ke dalam dua bagian, yaitu sebagai berikut
1.Konsep Geografi secara Denotatif
Konsep
Geografi secara denotative dapat menjelaskan berbagai pengertian gejala
Geografi berdasarkan definisi atau kamus. Contoh : Erosi merupakan
proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari suatu
tempat ke tempat lain oleh suatu zat pengangkut yang bergerak di atas
permukaan bumi.
2. Konsep Geografi secara Konotatif
Konsep
Geografi konotatif memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan
arti secara harfiah. Di dalamnya menyangkut semua aspek yang
berhubungan dengan konsep yang dibahas antara lain persebarannya,
faktor pendorongnya, jenisnya, dan proses pembentukannya. Konsep
Geografi bermanfaat untuk membimbing kita dalam berfikir dari sudut
pandang Geografi. Berikut ini akan dijelaskan tiga pendapat yang
mengungkapkan tentang konsep Geografi :
Konsep Geografi Menurut Ikatan Geografi Indonesia (IGI)
1.
Konsep Lokasi adalah konsep utama yang akan digunakan untuk mengetahui
fenomena geosfer dan konsep yang digunakan untuk menjawab pertannyaan
where(dimana) terjadinya fenomena. Konsep lokasi dibagi atas : - Lokasi
Absolut Lokasi berdasarkan garis lintang dan garis bujur, dan sifatnya
tetap. Contoh : Indonesia terletak di 6˚LU - 11˚LS dan 95˚BT - 141˚ BT
- Lokasi Relatif Lokasi yang artinya berubah-ubah karena dipengaruhi
daerah sekitar. Contoh : Bagi seseorang yang tinggal di kec. Kepanjen,
lokasi Stadion Kanjuruhan tidaklah jauh. Namun menurut orang yang
tinggal di kec. Batu lokasi Stadion kanjuruhan cukup jauh.
2.
Konsep Jarak yaitu panjang antara dua tempat. Terdiri antara atas : -
Jarak absolute : satuan panjang yang diukur dengan kilometer. -Jarak
Relatif : jarak tempuh yang menggunakan satuan waktu.
Konsep
jarak berkaitan dengan lokasi, kehidupan social, ekonomi, dan bersifat
relative. Jarak juga berpengaruh terhadap harga dan nilai barang.
Contoh : o Harga tanah akan semakin mahal jika jaraknya berdekatan
dengan jalan raya o Harga produksi pertanian akan lebih mahal di pasar
yang letaknya jauh dari dari pusat produksi dari pada pasar yang
letaknya lebih dekat dengan tempat produksi
3.
Konsep
Keterjangkauan Menyangkut ketercapaian untuk menjangkau suatu tempat,
sarana apa yang digunakan, atau alat komunikasi apa yang digunakan dan
sebagainya. Contoh: Daerah yang terletak dipedalaman hutanyang lebat
akan terisolir dari daerah luar karena tidak adanya akses untuk menuju
kesana.
4.
Konsep Pola Pola adalah sesuatu yang
berulang sehingga menampakkan suatu bentuk yang konsisten. Konsep pola
berkaitan dengan persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi. seperti
pola aliran sungai, pola pemukiman, lipatan patahan dan lain-lain.
Contoh: Pola permukiaman penduduk biasanya terkait dengan ketersediaan
SDA, sungai, jalan, dan bentuk lahan.\
5.
Konsep
Morfologi Menunjukkan bentuk muka bumi sebagai hasil tenaga endogen dan
eksogen yang membentuk dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan.
Dengan konsep morfolofi, orang akan mudah memperkirakan potensi lahan
tertentu. Contoh : Daerah pegunungan cocok digunakan untuk pertanian
dan perkebunan
6.
Konsep Aglomerasi atau Konsep
Mengelompok Berkaitan dengan kecenderungan penyebaran obyek geografi di
permukaan bumi. Pengelompokan fenomena di suatu kawasan biasanya karena
adanya unsur-unsur yang lebih memberi dampak positif Contoh : - Adanya
daerah kumuh dan daerah elit - Pengelompokan industry disuatu tempat
(aglomerasi industri) - Didaerah pedesaan, pemukiman akan mengelompok
di dekat lahan pertanian atau dekat dengan sumber air.
7.
Konsep Nilai Guna Konsep nilai guna, yaitu nilai sesuatu yang
ditentukan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lokasi, jarak,
dan keterjangkauan. Manfaat yang diberikan oleh suatu wilayah di muka
bumi pada makhluk hidup, tidak akan sama pada semua orang.
8.
Konsep Interaksi atau Interdependensi Menyatakan bahwa sesuatu yang ada
di permukaan bumi terkait dengan objek lain dan tidak dapat berdiri
sendiri. Contoh : interaksi antara desa dengan kota, orang kota
membutuhkan bahan pangan dari desa dan sebaliknya orang desa
membutuhkan alat-alat elektronik dan alat-alat produksi dari kota. i)
Konsep Diferensiasi Areal Konsep diferensiasi areal, yaitu konsep yang
memandang bahwa tidak ada suatu ruang di permukaan bumi yang sama.
Pasti suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. daerah-daerah yang
terdapat di muka bumi berbeda satu sama lain. Dapat dicermati dari
corak yang dimiliki oleh suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya.
9.
Konsep Keterkaitan Ruang Memandang bahwa setiap kehidupan di suatu
ruang tidak terlepas dari kehidupan di ruang sekitarnya. Konsep ini
hampir sama dengan konsep interaksi, perbedaannya pada lingkup yang
lebih luas. Jadi dapat diartikan sebagai, hubungan antara penyebaran
suatu unsur dengan unsur yang lain pada suatu tempat. Contoh: Daerah
pantai penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, karena dekat
laut. Ruang Kota Jakarta terkait dengan ruang Kota Bandung. Setiap
akhir pekan, jalur atau jalan sekitar Puncak-Bogor selalu macet karena
banyak orang Jakarta yang ingin berlibur di Bandung.
Konsep Geografi Menurut Henry J.Warman
Henry
J.Warman mengemukakan 15 konsep Geografi yang dapat dipergunakan
sebagai landasan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang terrdapat di
permukaan bumi. Dengan demikian, dapat dipahami adanya hubungan
sebab-akibat, hubungan fungsi, proses terjadinya gejala, dan
masalah-masalah Geografi yang terrdapat dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut :
1) Konsep Regional (Regional concept).
2) Konsep Ruang Kehidupan (Life layer concept).
3) Konsep manusia sebagai makhluk yang paling dominan (Man ecological dominant concept).
4) Konsep Global (Globalism concept).
5) Konsep Interaksi Keruangan (Spatial interaction concept).
6) Konsep Hubungan Antartempat (Areal relationship concept).
7) Konsep tempat yang sama (Areal likenesses concept).
8) Konsep perbedaan tempat (Areal differences concept).
9) Konsep keunikan tempat (Areal uniquenesses concept).
10) Konsep persebaran lokasi (Areal distribution concept).
11) Konsep lokasi relative (Relative location concept).
12) Konsep perbandingan keuntungan (Comperative advantage concept).
13) Konsep perubahan yang terus-menerus (Perpetual transformation concept).
14) Konsep penetapan sumber budaya (Culturally defined resources concept).
15) Konsep Bumi bulat pada bidang datar (Round Earth on flat paper concept).
Konsep Geografi Menurut Getrude WippleGetrude Wipple kemudian menyederhanakan 15 konsep tersebut menjadi lima konsep utama,
yaitu sebagai berikut :
a. Bumi sebagai sebuah planet (The Earth as a planet).
b. Keragaman cara hidup (Varied ways of living).
c. Keragaman region alam (Varied natural regions).
d. Arti manfaat region bagi manusia (Significance of region to man).
e. Peranan lokasi dalam memahami berbagai kejadian didunia (The importance of location in understanding world
affairs)