Selasa, 07 Agustus 2012

konsep-konsep geografi

24 Juli 2010

Konsep- Konsep Geografi

konsep- konsep Geografi
1. Lokasi, adalah konsep utama yang akan digunakan untuk mengetahui fenomena geosfer. Konsep lokasi dibagi atas :

a. Lokasi Absolut, lokasi menurut letak lintang dan bujur bersifat tetap.

b. Lokasi Relatif, lokasi yang tergantung pengaruh daerah sekitarnya dan sifatnya berubah.

2. Jarak, yaitu panjang antara dua tempat. Terdiri antara atas :

a. Jarak Mutlak, satuan panjang yang diukur dengan kilometer.

b. Jarak Relatif, jarak tempuh yang menggunakan satuan waktu

3. Keterjangkauan, menyangkut ketercapaian untuk menjangkau suatu tempat, sarana apa yang digunakan, atau alat komunikasi apa yang digunakan dan sebagainya.

4. Pola, berupa gambar atau fenomena geosfer seperti pola aliran sungai, pola pemukiman, lipatan patahan dan lain-lain.

5. Morfologi, menunjukkan bentuk muka bumi sebagai hasil tenaga endogen dan eksogen yang membentuk dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan.

6. Aglomerasi, pengelompokan fenomena di suatu kawasan dengan latar belakang adanya unsur-unsur yang lebih memberi dampak positif.

7. Nilai Kegunaan, manfaat yang diberikan oleh suatu wilayah di muka bumi pada makhluk hidup, tidak akan sama pada semua orang.

8. Interaksi Interdependensi, keterkaitan ruang antara satu dengan yang lain, misalnya interaksi antara desa dengan kota.

9. Diferensiasi Area, daerah-daerah yan terdapat di muka bumi berbeda satu sama lain. Dapat dicermati dari corak yang dimiliki oleh suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya.

10. Keterkaitan keruangan, hubungan antara penyebaran suatu unsur dengan unsur yang lain pada suatu tempat.

Konsep Geografi

1. Globalisme
Konsep ini terwujud dari hasil studi tentang bumi sebagai suatu bentuk “sphaira” atau bola, dan bumi sebagai bagian dari tata-surya. Bentuk bumi seperti itu (speroid), peredarannya, dan hubungannya dengan matahari, menghasilkan kejadian-kejadian penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup yang lain. Inklinasi sumbu-sumbu dan revolusi bumi mengelilingi matahari menghasilkan musim dan zona iklim; rotasi bumi menimbulkan gejala siang-malam, mempengaruhi gerakan air dan udara. Studi tentang globe sebagai model (miniatur) dari bumi memberikan dasar pengertian tentang grid-paralel dan meridian, yang selanjutnya memberikan pengertian tentang waktu, letak geografis, hakikat skala, distorsi peta.
Pengetahuan tentang hubungan bumi-matahari, grid, skala, distorsi peta itu sangat mendasar bagi geografi.

2. Diversitas dan Variabilitas
Gejala-gejala permukaan bumi tidak sama dan tidak tersebar merata, menimbulkan kebedaan atau diversitas dari tempat ke tempat. Ada tiga buah konsep penting yang berkaitan dengan pengertian diversitas tersebut, yaitu pola, kebedaan areal, dan regionalisasi.

a. Pola
Gejala-gejala alam yang tersebar tidak merata pada permukaan bumi membentuk aneka ragam pola yang digambarkan pada peta dalam berbagai ragam skala. Contohnya : pola iklim dunia, pola persebaran gunung-api, pola pengaliran sungai Jeneberang, pola okupasi manusia (berladang, bertani, berdagang, industri), pola pemukiman, pola lalu-lintas, dsb. Pola-pola dari berbagai ragam gejala tersebut dapat digolong-golongkan dan dipelajari secara sistematis. Gabungan dari berbagai macam pola di suatu tempat atau wilayah akan menentukan ciri-ciri tertentu dan memberikan corak khas dari berbagai area. Keadaan areal yang berbeda-beda tersebut menjadi perhatian para ahli geografi.

b. Kebedaan Areal
Kebedaan areal merupakan konsep dasar geografi. Pada umumnya kebedaan areal tersebut mengacu kepada variabilitas dari permukaan bumi. Tidak ada dua tempat atau kawasan di dunia ini yang identik sama.
Geografi terwujud karena hasrat manusia untuk mengerti tentang kebedaan (diversitas) dari permukaan bumi, yaitu kebedaan areal. Dunia ini terdiri dari tempat-tempat dan kawasan yang berbeda satu sama lain sebagai akibat dari kejadian paduan (konfigurasi) gejala-gejala yang berada di atasnya.

c. Regionalisasi
Sungguhpun tidak ada dua tempat yang persis sama, namun ada wilayah-wilayah geografis yang sedikit-banyak memiliki kesamaan. Wilayah yang relatif sama atau homogen itu disebut kawasan atau region.
Lingkup kawasan (region) ditentukan oleh dasar alasan yang berbeda-beda, tergantung tujuan penyelidikan. Ada yang dasarnya kesamaan tunggal, misalnya penduduk; ada yang berdasarkan kesamaan jamak seperti iklim, vegetasi serta pertanian. Kawasan juga dapat disatukan berdasarkan intensitas hubungan. Kawasan fungsional demikian itu, contohnya sebuah pusat perdagangan di sebuah kota. Batas-batas kawasan merupakan zona yang relatif sempit (jadi bukan garis), dimana beberapa gejala atau kombinasi beberapa gejala menandai batas tersebut. Kedudukan batas-batas kawasan dapat berubah-ubah dari tempat ke tempat. Regionalisasi merupakan alat untuk dapat melakukan deskripsi dan memiliki pengertian tentang aneka-ragam kawasan dalam kurun waktu tertentu. Adapun geografi yang mempelajari kawasan atau region tersebut diberi nama Geografi Wilayah atau Geografi Regional.

3. Lokasi Keruangan dan Areal

a. Ruang-bumi
Aristoteles percaya bahwa ruang merupakan kondisi logis bagi tercapainya gejala-gejala. Newton menganggap ruang sebagai “wadah” dari obyek. Berkley melihat ruang sebagai konsep mental berdasarkan koordinasi penglihatan dan pendengaran kita. Leibniz mengartikan nilai sebagai suatu gagasan yang kita ciptakan agar dapat menstruktur hubungan di antara obyek-obyek yang kita pelajari. Bila obyek ditiadakan, maka ruang akan lenyap. Jadi menurut Leibniz, ruang bersifat subyektif dan relatif. Pernyataan kita tentang ruang sangat berbeda-beda berdasarkan latar-belakang ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Bagi geografi, yang dimaksud dengan ruang ialah ruang bumi, dan yang diartikan sebagai “wadah” dari gejala-gejala maupun sebagai ciri dari obyek atau gejala-gejala yang secara subyektif kita ciptakan. Ruang bumi diisi oleh segala macam benda, obyek, atau gejala material dan non material yang terwujud pada permukaan bumi. Asosiasi yang kompleks dari perwujudan berbagai gejala material dan non material itu merupakan hasil dari proses perubahan yang kontinyu (berkelanjutan) merupakan hasil proses dari urutan-urutan kejadian. Ada proses fisik, proses biotik, dan juga proses budaya. Proses-proses tersebut saling berinteraksi membentuk aneka ragam paduan (konfigurasi) gejala pada permukaan bumi, merupakan sistem manusia-lingkungan (men-environment system) yang disebut juga sebagai sistem keruangan (spatial system).

b. Situs
Situs (site) erat hubungannya dengan suatu gejala pada suatu letak fisis (physical setting) pada areal yang ditempatinya. Karena itu untuk mengerti tentang situs perlu pula mengerti tentang gejala-gejala fisis yang terdapat pada setiap kawasan atau region.
Gejala-gejala yang biasanya diselidiki oleh geografer dalam menguraikan dan menilai suatu situs ialah:
1) Bentuk-bentyuk permukaan (dataran rendah, pebukitan, pegunungan, lembah, plato, pulau, semenanjung, dsb.).
2) Perairan (perairan air sungai dan air laut, drainage, sungai, danau, rawa, lautan, dsb.).
3) Iklim (suhu, kelembaban, angin, curah hujan).
4) Tanah dan materi tanah.
5) Vegetasi (hutan, padang rumput, sabana, mangrove, dsb.).
6) Mineral (minyak bumi, batubara, emas, dsb.).
7) Situasi (situation), menjelaskan gejala dalam hubungannya dengan gejala lain. Misalnya hubungan tempat dengan tempat. Dalam hal ini diperlukan konsep jarak dan arah, juga hubungan fungsional antar tempat atau wilayah.
Isi lokasi bukanlah sekedar posisi atau kondisi atau situasi arah dan jarak yang menyangkut tempat atau wilayah, tetapi juga menyangkut persebaran dari gejala-gejala pada permukaan bumi

c. Ketersangkutpautan (interelatedness)
Para ahli geografi percaya akan adanya kebersangkut-pautan di antara tempat-tempat pada permukaan bumi dan gejala-gejala pada suatu area. Istilah-istilah seperti interdependensi, interkoneksi, interaksi keruangan, dan assosiasi areal menguraikan dan menjelaskan saling hubungan antar tempat dan antar gejala pada permukaan bumi.

1) Assosiasi areal
Assosiasi areal menyatakan identifikasi kepada hubungan sebab akibat (kausalitas) antara gejala manusia dengan lingkungan fisiknya, yang menimbulkan ciri-ciri yang berbeda-beda pada berbagai tempat dan wilayah. Preston James menganggap konsep ini sebagai inti dari mana teori-teori geografi terbentuk. Penekanan dari konsep assosiasi ialah menunjuk kepada adanya kombinasi atau paduan (konfigurasi) dari gejala-gejala yang dapat menimbulkan kebedaan dari tempat ke tempat. Contoh sederhana dari peristiwa ini ialah hubungan antara persebaran penduduk dengan faktor kelembaban lingkungan.

2) Interaksi keruangan
Merupakan saling hubungan antara gejala-gejala pada tempat-tempat dan area-area yang berbeda-beda di dunia. Semua tempat pada permukaaan bumi itu diikat oleh kekuatan alam dan manusia (sumberdaya alam dan sumberdaya manusia). Terjadi gerak dari gejala-gejala tersebut dari tempat ke tempat; udara, air laut, tumbuhan dan hewan, serta manusia. Setiap kejadian berkenaan dengan hal itu akan mencerminkan adanya interaksi antar tempat. Manusia sebagai “pencipta” ilmu dan teknologi mampu berinteraksi dan bergerak dalam ruang secara leluasa melalui komunikasi dan transportasi. Migrasi dan bentuk-bentuknya misalnya terjadi di mana-mana dan menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap kehidupan sosio-budaya manusia. Semua itu menimbulkan peredaran/sirkulasi gejala-gejala secara intensif di seluruh ruang di dunia.

(a) Peredaran atau sirkulasi : menyangkut gerak dari gejala fisik, manusia, barang, dan gagasan (ide) ke seluruh penjuru dunia. Meliputi antara lain difusi kebudayaan, distribusi, perdagangan, migrasi, komunikasi dan lain sebagainya.
(b) Interdependensi : Merupakan bentuk saling-hubungan karena peredaran gejala-gejala. Dalam interdependensi, kadar ikatannya lebih kuat dan lebih nyata daripada peristiwa interrelasi. Dunia sekarang sebenarnya merupakan masyarakat-masyarakat dunia dengan saling ketergantungan yang kuat di antara negara-negara (Asean, MEE, PBB).
(c) Perubahan : Salah satu aspek paling penting di dalam geografi dunia ialah ciri dinamika dari gejala-gejala. “Panta Rhei” kata Heraklites, yang artinya “semua mengalir”. Memang di dunia ini tidak ada yang diam mutlak; apakah itu gejala alami maupun gejala buatan manusia. Manusia bersama alam mengubah ciri-ciri dari bumi.
Geografi merupakan studi tentang masa kini. Tetapi untuk mengetahui masa sekarang, perlu mengetahui pula masa lalu (sejarah). Dalam hal ini geografi melakukan rekonstruksi kejadian-kejadian. Perubahan yang tercantum pada peta menunjuk kepada perubahan tempat dan wilayah pada permukaan bumi.
Erat hubungannya dengan konsep perubahan, ialah konsep proses. Proses ialah kejadian yang berurutan yang menimbulkan perubahan, dalam batas waktu tertentu. Permukaan bumi ini menjadi begitu kompleks karena adanya proses-proses dalam berbagai tingkat dan tempo (Preston James). Ada tiga macam proses, yaitu proses fisik, proses biotik, dan proses sosial. Di dalam geografi ketiga macam proses tersebut dalam kenyataannya adalah satu proses utuh; penggolongan tersebut (analisis kategori) hanya berlaku dalam penyelidikan dan kajian saja.

e. Wilayah Kebudayaan
Salah satu konsep dari Geografi modern ialah menyangkut penyesuaian dan pengawasan manusia (kontrol) terhadap lingkungan fisiknya. Keputusan yang diambil manusia tentang penyesuaian dan pengawasan terhadap lingkungan fisis tersebut sangat ditentukan oleh pola kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat. Kebudayaan dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Secara sempit sebagai aspek yang menarik seperti kesenian, tata-krama, ilmu dan teknologi. Secara luas kebudayaan diartikan sebagai hasil dari daya akal atau daya budi manusia yang merupakan keseluruhan yang kompleks menyangkut pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, hukum dan lain-lain. Kemampuan atau kebiasaan yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat (E.B.Taylor).
Di dalam Geografi, kebudayaan diartikan secara luas. Herskovits mengartikannya sebagai “man-made part of the environment”, sedang C.Kluckhohn sebagai “way of live”. P.V. de la Blache menyebutnya sebagai “genre de vie”, yaitu tipe-tipe proses produksi yang dipilih manusia dari kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh tanah, iklim, dan ruang yang terdapat pada suatu wilayah atau kawasan, serta tingkat kebudayaan (dalam arti sempit) di wilayah tersebut.

(buta geografi). Bahwa semua cabang ilmu pengetahuan empiris yang masing-masing mempelajari gejala (phenomena) di permukaan bumi tanpa memahami dan peduli sistem interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia pasti akan membuat kerusakan di muka bumi.
Geografi tetap konsisten dengan obyek studinya yaitu melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Geografi pun mengajarkan kearifan teknologi dalam mengelola alam lingkungan hidupnya manusia.

Konsep adalah pengertian-pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Konsep essensial suatu bidang ilmu merupakan pengertian-pengertian untuk mengungkapkan atau menggambarkan corak abstrak fenomena essensial dari obyek material bidang kajian suatu ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen penting dalam memahami fenomena yang terjadi.

1. Konsep Lokasi

Terdapat dua pengertian lokasi yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif. Yang dimaksud dengan lokasi absolut adalah lokasi yang berhubungan dengan posisi menurut koordinat garis lintang dan garis bujur. Contoh : Indonesia terletak diantara 60 LU-110 LU dan diantara 950 BT-1410 BT.

Sedangkan yang dimaksud dengan lokasi relatif adalah lokasi berdasarkan lingkungan sekitarnya. Contoh : Indonesia terletak antara Benua Asia dan Australia.

2. Konsep Jarak

Dalam kehidupan sosial ekonomi, jarak memiliki arti penting. Dalam geografi jarak dapat diukur dengan dua cara, yaitu jarak geometrik dinyatakan dalam satuan panjang kilometer dan jarak waktu yang diukur dengan satuan waktu(jarak tempuh).

3. Konsep Keterjangkauan/Accessibility

Sulit atau mudahnya suatu lokasi untuk dapat dijangkau dipengaruhi oleh lokasi, jarak dan kondisi tempat. Misalnya, suatu daerah pedalaman yang hanya terdapat jalan setapak tentu merupakan daerah yang sulit dapat dijangkau.

4. Konsep Pola

Pola merupakan tatanan geometris yang beraturan. Contoh, penerapan konsep pola adalah pola permukiman penduduk yang memanjang mengikuti jalan raya atau sungai.

5. Konsep Geomorfologi

Yang dimaksud geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi. Ilmu geografi tidak terlepas dari bentuk-bentuk permukaan bumi, seperti pegunungan, perbukitan, lembah dan dataran. Hal inilah yang menyebabkan permukaan bumi merupakan obyek studi geografi.

6. Konsep Aglomerasi

Aglomerasi merupakan kecenderungan pengelompokan suatu gejala yang terkait dengan aktivitas manusia. Misalnya pengelompokan kawasan industri, pusat perdagangan dan daerah pemukiman.

7. Konsep Perbedaaan Wilayah

Terdapat perbedaan antara wilayah satu dengan wilayah lain. Perbedaan ini kemudian menimbulkan suatu hubungan atau interaksi suatu wilayah dengan wilayah lainnya.

8. Konsep Nilai Kegunaan

Nilai kegunaan suatu sumber bersifat relatif.

Misalnya pantai mempunyai nilai kegunaan yang tinggi sebagai tempat rekreasi bagi warga kota yang selalu hidup dalam keramaian, kebisingan dan kesibukan.

9. Konsep Interaksi

Interaksi merupakan terjadinya hubungan yang saling mempengaruhi antara suatu gejala dengan gejala lainnya. Contohnya adalah perbedaan kondisi antara daerah pedesaan dan perkotaan yang kemudian dapat menimbulkan suatu kegiatan interaksi seperti halnya penyaluran kebutuhan pangan, arus urbanisasi maupun alih tehnologi.

10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan antara suatu fenomena dengan fenomena lainnya merupakan suatu keterkaitan keruangan. Misalnya hubungan antara kemiringan lereng di suatu wilayah dengan ketebalan lapisan tanah serta hubungan antara daerah kapur dengan kesulitan air.

Banyak ahli geografi mengajarkan dan terus mencari konsep yang relevan atas kehidupan sehari-hari. Pengetahuan geografi ini penting untuk memahami apa saja yang kita kerjakan setiap hari atau pada saat-saat tertentu, dan bagaimana kegiatan rutin sehari-hari (seperti berangkat ke tempat kerja/sekolah) mempengaruhi lingkungan sekeliling kita (misalnya kemacetan, atau polusi udara yang memberi sumbangan pada pemanasan global). Penekanan ini membawa kegiatan sehari-hari pada konteks yang lebih besar - terutama konteks keruangan - sehingga meningkatkan kesadaran kita pada kegiatan dan kehidupan pribadi, dan konteks sosio-spatial mulai dari skala kecil (lingkungan tempat tinggal) sampai skala besar (global). Kita sering beranggapan bahwa kita tidak perlu mempelajari geografi karena toh kita sudah "tahu". Praktisi geografi yang naif menganggap "Geografi lebih banyak merupakan pengetahuan umum" - mereka bahkan menunjukkan bahwa pengetahuan geografi mereka yang naif adalah salah atau sangat tidak lengkap (lihat saja kuis-kuis yang banyak di televisi seperti "Kuis Siapa Berani" atau "Who Wants to be a Millionaire"). Banyak orang tidak ingin mempercayai bahwa mereka harus mengetahui konsep geografi seperti lokasi, pengenalan tempat, penghitungan jarak, persebaran dan konteks regional. Untuk menggambarkan kelemahan keadaan ini, penulis akan memberikan contoh yang menunjukkan bahwa ternyata masyarakat menerapkan geografi - bahkan jika mereka tidak tahu bahwa mereka melakukannya. Berikut adalah daftar kegiatan yang kita semua lakukan.

Hal-hal berbau geografis yang anda lakukan :

1.Memilih di mana anda tinggal.
2.Memilih bagaimana atau lewat mana anda pergi ke tempat kerja.
3.Mencari di mana pasar, supermarket, pertokoan, dokter atau sekolah terdekat.
4.Memilih tempat berlibur dan bagaimana cara pergi ke sana.
5.Memahami perubahan lingkungan lokal dan global sehingga mempengaruhi jenis pakaian apa yang anda akan bawa/beli jika anda akan mengunjungi suatu tempat.
6.Pada sebuah perjalanan yang panjang dengan kendaraan sendiri, memperkirakan di mana kota yang cukup besar sehingga anda akan bisa mencari penginapan untuk beristirahat.
7.Mengetahui dimana restoran masakan etnis/negara tertentu berada dalam sebuah kota.
8.Mengetahui lokasi yang disebutkan pada siaran berita baik nasional maupun internasional.
9.Menyiapkan materi-materi yang dibutuhkan untuk pergi ke suatu tempat (nasional maupun internasional) misalnya untuk pekerjaan.
10.Berjalan-jalan di sekitar rumah dan kembali dengan selamat.
11.Mencari mobil anda di tempat parkir.
12.Berjalan di rumah anda dalam keadaan gelap - misalnya karena mati listrik - tanpa menabrak perabotan atau tembok.
13.Mencari jalan kembali ke hotel di kota yang baru pertama kali anda kunjungi.
14.Mencari di mana tempat rekreasi.
15.Memilih tim olahraga (sepakbola, basket) yang anda sukai.
16.Memilih koran yang akan anda beli.
17.Mengerti akan interaksi internasional dan aliran barang yang membuat barang konsumsi anda tetap segar di toko langganan anda.
18.Mengetahui apakah Padang lebih utara atau selatan dibandingkan Samarinda.
19.Mengerti mengapa sulit membangun rumah di tempat berlereng dengan tanah yang tidak stabil.
20.Bertanya-tanya kenapa orang tetap saja tinggal di tempat yang sering kebanjiran, kebakaran, gempa bumi, emisi listrik tegangan tinggi atau terkena polusi industri.
Penulis mencoba menjabarkan beberapa konsep geografi dan konsep spatial dari daftar di atas menjadi sebagai berikut :

1.Masalah Lokasi : Di mana saya parkir ? Mungkin ini pertanyaan yang paling sering (dan menjengkelkan) dijumpai dan merupakan salah satu pengenalan lokasi - hal mendasar dalam geografi.Geografi adalah ilmu yang menekankan pada lokasi dan tempat. Mempelajari pola kota-kota di Jawa Tengah, perladangan di Kalimantan, pertambangan emas di Afrika Selatan atau sumber berjangkitnya penyakit di Jakarta secara esensi sama dengan mencari lokasi sekolah untuk anak anda, toko, tempat rekreasi, masjid, gereja, dan restoran. Kita menyerap informasi ini secara visual dari siaran berita televisi atau iklan, kita mendapatkan deskripsi tertulis dari koran, jurnal, majalah, kita mendengar lewat siaran radio, atau mungkin mendapatkan informasi itu dari teman, tetangga atau karena melihat langsung saat melewati tempat-tempat itu. Informasi yang kita serap tentang tempat dan lokasinya itu geografis - merujuk pada suatu tempat. Saat kita terlibat percakapan tentang suatu peristiwa yang sedang hangat, kita mengutip informasi yang diambil dari memori otak kita, atau yang sudah diolah dengan proses informasi spatial. Ini membutuhkan integrasi dari sejumlah informasi spatial yang berbeda sehingga memberikan pengertian yang lebih baik atas suatu masalah. Jadi, dimana anda parkir tadi ? Apakah dekat dengan tanda tertentu ? Apakah di blok atau lantai tertentu ? Apakah dekat dengan pintu masuk tempat parkir ? Apakah menghadap jalan atau menghadap gedung ? Apakah dekat atau jauh dengan pintu masuk gedung ? Dari mana anda masuk ke gedung tersebut ? Dari mana keluarnya ? Untuk menjawab pertanyaan ini melibatkan pencarian pada "mental map" yang sudah terbentuk dari pengalaman anda atau dari yang anda lihat. Dan apa yang lebih simbolis pada pemikiran geografis dari pada membuat (pada memori anda) dan menggunakan peta untuk memecahkan masalah lokasi anda ? Fakta sederhana ini mengubah dunia teknologi informasi. Informasi menjadi ber-"georeferensi" pada derajat yang terus meningkat: mempelajari sifat keruangan inilah yang merupakan jantung dari Ilmu Informasi Geografis, dan teknologi SIG/GIS menggunakan metafora geografis dan keruangan sebagai antarmuka dan mesin pencari atas data yang bisa diakses secara digital.

2.Meng-overlay sejumlah informasi : Mencari tempat untuk tinggal adalah hal yang diperlukan semua orang. Keterlibatan geografi menjadi sangat penting dalam hal ini. Di mana anda mencari ? Dalam konteks hubungan lokasional antara tempat tinggal dan tempat kerja, geograf mendapatkan bahwa kedekatan spatial ke tempat kerja sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, selebihnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial dan hambatan lainnya. "Ketidakcocokan spatial" terjadi jika seseorang harus tinggal jauh dari tempat dia kerja - misalnya seseorang harus tinggal jauh dipinggir atau bahkan di luar kota karena tidak mampu menyewa atau membeli rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. Bahkan keadilan sosial didasarkan atas konsep geografis dan informasi geografis.

Di Amerika Serikat, jika kita ingin mencari tempat tinggal, agen dari perumahan akan bertindak sebagai perantara yang membantu memberikan beberapa alternatif (untuk disewa atau dibeli). Mereka mempelajari ekonomi, sosial, budaya, usia, pendapatan dan karakteristik keluarga calon pembeli dan mencocokkannya dengan kualitas rumah dan karakteristik lingkungan. Tetapi jika kita lihat lagi, ada sejumlah paradoks geografis yang menarik. Misalnya, harga tanah di sebagian besar daerah yang terletak di pusat kota sangat tinggi karena lokasinya dan kemudahannya mencapai daerah lainnya di kota tersebut. Tetapi ternyata bagian pusat kota lebih banyak dihuni oleh penduduk yang berpendapatan sedikit. Mereka rela tinggal di areal tempat tinggal yang sempit dan berdesak-desakan beberapa keluarga (pada suatu apartemen atau rumah). Paradoksnya - seperti dinyatakan oleh ilmuwan regional William Alonso sekitar lima puluh tahun yang lalu - adalah di banyak kota penduduk yang berpendapatan sedikit menempati daerah yang paling mahal dan terpaksa menggunakan sedikit tempat dengan basis perkapita, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang tinggi di bagian itu, sedangkan penduduk yang berpendapatan tinggi tinggal di daerah yang lebih murah ke arah pinggir kota tetapi lebih luas, sehingga kepadatan penduduk di daerah itu (pinggir kota) menjadi lebih rendah dibanding di pusat kota. Hasilnya adalah "gradien kepadatan" penduduk menurut jarak dari pusat kota dan satu dari generalisasi yang banyak digunakan oleh para geograf tentang fenomena distribusi spatial - bahwa kejadian dari banyak hubungan menunjukkan pengurangan menurut jarak atau penurunan frekuensi atas jarak dari pusatnya. Generalisasi ini juga berlaku pada frekuensi migrasi, panggilan/penggunaan telepon, dan banyak kegiatan lainnya.

Hasilnya adalah kepadatan penduduk yang tinggi di bagian paling tengah kota dan kepadatan rendah di pinggir kota - fakta yang mudah diamati dari kehidupan sehari-hari tetapi kita tidak sadar bahwa itu termasuk geografi. Geograf atau ahli geografi, mencoba memahami lingkungan kota dan membakukan "pengetahuan umum" ini dengan membangun teori dan membuat kebijakan darinya. Dengan demikian, kejadian sehari-hari yang "kita semua tahu", tetapi membutuhkan pengetahuan yang formal untuk menyatakan dan mempengaruhi kebijakan kota, mencapai kelengkapan dengan menanyakan pertanyaan geografi sederhana - di mana orang tinggal dan mengapa di sana ?

3.Di mana saya ? Mengetahui di mana anda berada sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, tidak mengetahui di mana anda berada berarti anda tersesat. Seorang penglaju yang menggunakan KRL mungkin tidak akan begitu peduli di mana dia berada saat dalam perjalanan. Tetapi lupa akan sebuah penanda yang menjadi petunjuk lokasi secara absolut atau relatif di mana dia berada akan membuat perjalanannya menjadi kacau - misalnya terlewat atau mungkin belum sampai tetapi sudah turun - dan memaksa untuk mencari tahu lagi untuk mencapai tujuan. Contoh lainnya, mengetahui di mana anda berada, mencari arah ke tempat fasilitas umum, memilih aktivitas (misalnya, daerah/bank/toko mana yang harus dikunjungi), kegiatan sosial (misalnya, Apakah sekarang lebih dekat ke rumah teman atau ke bioskop ?), atau kegiatan lainnya baik sudah atau belum direncanakan yang bergantung pada pengetahuan anda atas lokasi anda berada.

Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.

2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.

3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.

4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.

5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.

6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.

7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.

8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.

9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.

10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.

1. Konsep Lokasi
Konsep ini berkaitan dengan letak suatu tempat di permukaan bumi.
Konsep ini terbagi menjadi dua yaitu:
a. Lokasi Absolut : Lokasi yang tetap dan tidak berubah ubah.
Contoh: Suatu tempat dilihat dari garis lintang dan garis bujur.
b. Lokasi Relatif : Lokasi yang berubah dipengaruhi oleh faktor tertentu.
Contoh: Bali dulu termasuk waktu indonesia bagian barat, sekarang termasuk waktu wilayah indonesia tengah.

2. Konsep Jarak
Konsep ini berkaitan dengan Jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain.
Konsep ini terbagi menjadi dua yaitu:
• Jarak Absolut: Jarak yang diukur dengan satuan ukur
Contoh: jakarta sampai ke karawang = 63km
• Jarak Relatif: Jarak yang berkaitan dengan faktor waktu, ekonomi,dll.
Contoh: Satu jam pelajaran = 45 menit

3. Konsep Keterjangkauan
Hubungan antara satu tempat dengan satu tempat yang lain dikaitkan dengan keadaan permukaan bumi dan tersedianya sarana dan prasarana angkutan atau alat komunikasi. (Mudah/Sulitnya suatu lokasi untuk dijangkau).
Contoh : Sarana angkutan kota terhadap kehidupan manusia

4. Konsep Pola
Konsep ini berkaitan dengan persebaran fenomena geosfer dipermukaan bumi.
Contoh: Persebaran jenis flora,fauna,dll

5. Konsep Morfologi
Konsep ini berkaitan dengan bentuk pemukaan bumi, sebagai akibat dari tenaga endogen dan eksogen.
Contoh: Pegunungan, lembah,dll yang dimanfaatkan bagi kehidupan manusia

6. Konsep Aglomerasi
Konsep ini berkaitan dengan pemusatan, penimbunan, pengelompokan pada suatu tempat atau kawasan.
Contoh : Kawasan industri, pertanian, pemukiman.

7. Konsep Nilai Kegunaan
Konsep ini berkaitan dengan nilai guna tempat-tempat dipermukaan bumi berkaitan dengan manfaat dari fenomena yang ada dan bersifat relatif
Contoh : Nilai guna daerah pegunungan, laut, sungai, bagi setiap orang.

8. Konsep Interaksi dan Interdependensi
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala dimuka bumi.
Contoh : Perbedaan desa dan kota

9. Konsep Deferensi Areal (Perbedaan Wilayah)
Fenomena yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Konsep ini berkaitan dengan perbedaan corak antara wilayah dipermukaan bumi dengan ciri-ciri khusus yang membedakan dengan daerah lain atau disebut region.
Contoh: Corak khas wilayah pedesaan

10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena lain disuatu tempat atau ruang.
Contoh: Daerah pantai pendudukya bermata pencaharian sebagai nelayan karena dekat laut.

Pembangunan pabrik semen perlu memperhatikan keberadaan gunung batu kapur, sarana transportasi, dan pemasaran.

Konsep Geografi yang berkaitan dengan hal itu adalah…..

A. konsep diferensiasi area

B. konsep interaksi/independensi

C. konsep keterkaitan keruangan

D. konsep keterjangkauan

E. konsep lokasi


Kupasan:

● Soal ini mengacu pada:

- Standar Kompetensi Lulusan (SKL) 1:

Menganalisis hakikat, obyek, ruang lingkup, prinsip, konsep,

aspek, dan pendekatan Geografi.

- Kemampuan Yang Diuji (KYD):

Menjelaskan penggunaan konsep dasar dan pendekatan

Geografi dalam rangka memahami fenomena geosfer.

- Materi: Konsep Geografi.

- Kelas/semester: X/1.

●Indikator soal:

Disajikan stimulus tentang pembangunan pabrik semen perlu

memperhatikan keberadaan gunung kapur, sarana transportasi,

dan pemasaran, siswa dapat mengemukakan konsep Geografi

yang dimaksud.

● Ranah: kognitif—penerapan (C3).

● Tingkat kesulitan soal: sedang.

● Stimulus, stem/kalimat soal dan pilihan jawaban yang disajikan

mudah dimengerti oleh siswa, instruktif dan operasional.

● Penekanan soal tersebut terletak pada konsep keterkaitan

keruangan. Konsep keterkaitan keruangan adalah: konsep yang

menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena

dengan fenomena yang lain di suatu tempat atau ruangan, baik

yang menyangkut fenomena alam, tumbuh-tumbuhan, maupun

sosial. Konsep ini disebut pula dengan konsep asosiasi keruangan

(Bambang Nianto Mulyo dan Purwadi Suhandini, 2007:10—11).

Derajat keterkaitan yang dimaksud adalah adanya keterkaitan

antara fenomena pembangunan pabrik semen yang tidak bisa

dipisahkan dengan fenomena keberadaan gunung batu kapur,

sebab bahan mentah/bahan baku pabrik semen adalah batu kapur.

Di sisi lain pembangunan pabrik semen terkait pula dengan

fenomena sarana transportasi untuk mengangkut bahan

mentah/bahan baku dari gunung batu kapur menuju pabrik di

satu sisi, dan untuk mengangkut semen hasil produksi pabrik

tersebut menuju pasar. Untuk bisa menjual produksinya, pabrik

tersebut juga terkait adanya fenomena pemasaran. Laku tidaknya

semen yang diproduksi pabrik tersebut terkait dengan fenomena

pemasaran yang ada.

● Dengan demikian soal tersebut jawabannya adalah: C.

● Tambahan:

Untuk mempertegas hal di atas, perlu ditambahkan pengertian

dari masing-masing konsep yang dijadikan pilihan jawaban pada

soal nomor 1 untuk paket A dan nomor 2 untuk paket B,

khususnya untuk pilihan jawaban A, B, D, dan E.

- Konsep diferensiasi area adalah konsep dalam Geografi yang

digunakan untuk mempelajari perbedaan gejala Geografi antara

daerah/wilayah yang satu dengan lainnya di permukaan Bumi

yang berpengaruh pada aktifitas manusia.

Contoh: batuan induk penyusun daerah Malang Utara berbeda

dengan batuan induk penyusun daerah Malang Selatan. Batuan

induk penyusun daerah Malang Utara adalah batuan induk

vulkanis, sedang Malang selatan batuan induknya adalah batuan

kapur (karst).

- Konsep interaksi/interdependensi adalah konsep dalam

Geografi yang digunakan untuk mempelajari adanya hubungan

timbal balik dan saling ketergantungan antara suatu

daerah/wilayah dengan daerah/wilayah lainnya.

Contoh: hubungan timbal balik dan saling ketergantungan

antara desa dengan kota. Desa menghasilkan bahan pokok dan

bahan mentah/bahan baku yang dibutuh oleh kota, sedang kota

menghasilkan barang-barang industri yang dibutuhkan oleh

desa. Lantaran itulah kedua wilayah tersebut saling

membutuhkan hingga terjadilah interaksi/interdependensi antara

masyarakat desa dengan masyarakat kota.

- Konsep keterjangkauan adalah konsep dalam Geografi yang

digunakan untuk mempelajari hubungan melalui transportasi

dan komunikasi suatu daerah/wilayah yg dipengaruhi oleh

faktor jarak, kondisi medan (kondisi daerah/wilayah), dan

ada/tidak adanya sarana angkutan dan komunikasi yang

berpengaruh pada aktifitas manusia. Berdasarkan hal ini ada

daerah/wilayah/tempat yang mudah dijangkau dan ada pula

daerah yang sulit dijangkau (sering disebut daerah

terasing/terisolasi/terpencil). Konsep ini sering pula disebut

dengan konsep aksesibilitas (accessibility).

Contoh: daerah-daerah di pedalaman Papua merupakan daerah-

daerah yang sulit dijangkau, mengingat daerahnya

berpegunungan tinggi (berelief sangat kasar) sehingga pesawat

terbang perintis merupakan sarana transportasi penting. Itupun

hanya pada jam-jam tertentu ketika cuaca tidak berkabut.

Sebaliknya Jakarta dapat diakses dengan berbagai sarana

transportasi dan komunikasi secara mudah dan cepat.

- Konsep lokasi adalah konsep dalam Geografi yang digunakan

untuk menjelaskan letak/posisi suatu gejala Geografi di

permukaan Bumi yang berpengaruh pada aktifitas manusia.

Konsep lokasi dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Lokasi absolut, ialah konsep lokasi yang berdasarkan

grid/koordinat (sering pula disebut letak astronomis), bersifat

mutlak/tetap. Untuk daerah yang relatif sempit menggunakan

1 (satu) garis lintang dan 1 (satu) garis bujur, sedang untuk

daerah/wilayah yang relatif luas menggunakan 2 (dua) garis

lintang dan 2 (dua) garis bujur.

Contoh: lokasi absolut Kota Malang adalah 8°LS dan

112°30’BT, sedang lokasi absolut Indonesia adalah antara

6°LU--11°LS dan 95°BT--141°BT.

b. Lokasi relatif, ialah konsep lokasi yang berdasarkan keadaan

sekitarnya atau juga berdasarkan peninjaunya, sehingga letak

ini bisa berubah-ubah. Lokasi relatif ini sering pula disebut

letak Geografis.

Contoh: Kota Malang terletak di sebelah selatan Kota

Surabaya dan terletak di sebelah utara Kepanjen. Contoh lain,

Indonesia terletak antara benua Asia dan benua Australia dan

terletak antara samudera Pasifik dan samudera Hindia.

Sumber:

1. Akhwan Nurhasan, dkk. 2009. Geografi (Lembar Kerja dan Tugas Siswa. Surabaya: Bintang Karya.

2. Gunawan Totok, dkk. 2007. Fakta dan Konsep Geografi. Jakarta: Inter Plus.

3. Harmanto Gatot. 2008. Geografi Bilingual. Bandung: Yrama Widya.

4. Nianto Mulyo Bambang dan Suhandini Purwadi. 2004 & 2007. Kompetensi Dasar Geografi 1. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

5. S. Sri Lestari. 2007. Geografi untuk SMA dan MA Kelas X. Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa.

6. Sudarsono Agus. 2009. Geografi Kontekstual. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

7. Udayanti Atik dan Effendi Johan. 2008. Seri Pendalaman Materi Geografi SMA dan MA. Jakarta: Erlanga.

Pengertian Konsep Geografi

Konsep geografi(Nursid Sumaatmadja) adalah pola abstrak yang berkenaan dengan gejala-gejala konkret tentang Geografi. Pada dasarnya konsep geografi terbagi ke dalam dua bagian, yaitu sebagai berikut

1.Konsep Geografi secara Denotatif

Konsep Geografi secara denotative dapat menjelaskan berbagai pengertian gejala Geografi berdasarkan definisi atau kamus. Contoh : Erosi merupakan proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari suatu tempat ke tempat lain oleh suatu zat pengangkut yang bergerak di atas permukaan bumi.

2. Konsep Geografi secara Konotatif

Konsep Geografi konotatif memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan arti secara harfiah. Di dalamnya menyangkut semua aspek yang berhubungan dengan konsep yang dibahas antara lain persebarannya, faktor pendorongnya, jenisnya, dan proses pembentukannya. Konsep Geografi bermanfaat untuk membimbing kita dalam berfikir dari sudut pandang Geografi. Berikut ini akan dijelaskan tiga pendapat yang mengungkapkan tentang konsep Geografi :

Konsep Geografi Menurut Ikatan Geografi Indonesia (IGI)

1.

Konsep Lokasi adalah konsep utama yang akan digunakan untuk mengetahui fenomena geosfer dan konsep yang digunakan untuk menjawab pertannyaan where(dimana) terjadinya fenomena. Konsep lokasi dibagi atas : - Lokasi Absolut Lokasi berdasarkan garis lintang dan garis bujur, dan sifatnya tetap. Contoh : Indonesia terletak di 6˚LU - 11˚LS dan 95˚BT - 141˚ BT - Lokasi Relatif Lokasi yang artinya berubah-ubah karena dipengaruhi daerah sekitar. Contoh : Bagi seseorang yang tinggal di kec. Kepanjen, lokasi Stadion Kanjuruhan tidaklah jauh. Namun menurut orang yang tinggal di kec. Batu lokasi Stadion kanjuruhan cukup jauh.
2.

Konsep Jarak yaitu panjang antara dua tempat. Terdiri antara atas : - Jarak absolute : satuan panjang yang diukur dengan kilometer. -Jarak Relatif : jarak tempuh yang menggunakan satuan waktu.

Konsep jarak berkaitan dengan lokasi, kehidupan social, ekonomi, dan bersifat relative. Jarak juga berpengaruh terhadap harga dan nilai barang. Contoh : o Harga tanah akan semakin mahal jika jaraknya berdekatan dengan jalan raya o Harga produksi pertanian akan lebih mahal di pasar yang letaknya jauh dari dari pusat produksi dari pada pasar yang letaknya lebih dekat dengan tempat produksi

3.

Konsep Keterjangkauan Menyangkut ketercapaian untuk menjangkau suatu tempat, sarana apa yang digunakan, atau alat komunikasi apa yang digunakan dan sebagainya. Contoh: Daerah yang terletak dipedalaman hutanyang lebat akan terisolir dari daerah luar karena tidak adanya akses untuk menuju kesana.

4.

Konsep Pola Pola adalah sesuatu yang berulang sehingga menampakkan suatu bentuk yang konsisten. Konsep pola berkaitan dengan persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi. seperti pola aliran sungai, pola pemukiman, lipatan patahan dan lain-lain. Contoh: Pola permukiaman penduduk biasanya terkait dengan ketersediaan SDA, sungai, jalan, dan bentuk lahan.\

5.

Konsep Morfologi Menunjukkan bentuk muka bumi sebagai hasil tenaga endogen dan eksogen yang membentuk dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan. Dengan konsep morfolofi, orang akan mudah memperkirakan potensi lahan tertentu. Contoh : Daerah pegunungan cocok digunakan untuk pertanian dan perkebunan

6.

Konsep Aglomerasi atau Konsep Mengelompok Berkaitan dengan kecenderungan penyebaran obyek geografi di permukaan bumi. Pengelompokan fenomena di suatu kawasan biasanya karena adanya unsur-unsur yang lebih memberi dampak positif Contoh : - Adanya daerah kumuh dan daerah elit - Pengelompokan industry disuatu tempat (aglomerasi industri) - Didaerah pedesaan, pemukiman akan mengelompok di dekat lahan pertanian atau dekat dengan sumber air.
7.

Konsep Nilai Guna Konsep nilai guna, yaitu nilai sesuatu yang ditentukan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lokasi, jarak, dan keterjangkauan. Manfaat yang diberikan oleh suatu wilayah di muka bumi pada makhluk hidup, tidak akan sama pada semua orang.

8.

Konsep Interaksi atau Interdependensi Menyatakan bahwa sesuatu yang ada di permukaan bumi terkait dengan objek lain dan tidak dapat berdiri sendiri. Contoh : interaksi antara desa dengan kota, orang kota membutuhkan bahan pangan dari desa dan sebaliknya orang desa membutuhkan alat-alat elektronik dan alat-alat produksi dari kota. i) Konsep Diferensiasi Areal Konsep diferensiasi areal, yaitu konsep yang memandang bahwa tidak ada suatu ruang di permukaan bumi yang sama. Pasti suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. daerah-daerah yang terdapat di muka bumi berbeda satu sama lain. Dapat dicermati dari corak yang dimiliki oleh suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya.

9.

Konsep Keterkaitan Ruang Memandang bahwa setiap kehidupan di suatu ruang tidak terlepas dari kehidupan di ruang sekitarnya. Konsep ini hampir sama dengan konsep interaksi, perbedaannya pada lingkup yang lebih luas. Jadi dapat diartikan sebagai, hubungan antara penyebaran suatu unsur dengan unsur yang lain pada suatu tempat. Contoh: Daerah pantai penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, karena dekat laut. Ruang Kota Jakarta terkait dengan ruang Kota Bandung. Setiap akhir pekan, jalur atau jalan sekitar Puncak-Bogor selalu macet karena banyak orang Jakarta yang ingin berlibur di Bandung.

Konsep Geografi Menurut Henry J.Warman

Henry J.Warman mengemukakan 15 konsep Geografi yang dapat dipergunakan sebagai landasan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang terrdapat di permukaan bumi. Dengan demikian, dapat dipahami adanya hubungan sebab-akibat, hubungan fungsi, proses terjadinya gejala, dan masalah-masalah Geografi yang terrdapat dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut :

1) Konsep Regional (Regional concept).

2) Konsep Ruang Kehidupan (Life layer concept).

3) Konsep manusia sebagai makhluk yang paling dominan (Man ecological dominant concept).

4) Konsep Global (Globalism concept).

5) Konsep Interaksi Keruangan (Spatial interaction concept).

6) Konsep Hubungan Antartempat (Areal relationship concept).

7) Konsep tempat yang sama (Areal likenesses concept).

8) Konsep perbedaan tempat (Areal differences concept).

9) Konsep keunikan tempat (Areal uniquenesses concept).

10) Konsep persebaran lokasi (Areal distribution concept).

11) Konsep lokasi relative (Relative location concept).

12) Konsep perbandingan keuntungan (Comperative advantage concept).

13) Konsep perubahan yang terus-menerus (Perpetual transformation concept).

14) Konsep penetapan sumber budaya (Culturally defined resources concept).

15) Konsep Bumi bulat pada bidang datar (Round Earth on flat paper concept).

Konsep Geografi Menurut Getrude WippleGetrude Wipple kemudian menyederhanakan 15 konsep tersebut menjadi lima konsep utama,
yaitu sebagai berikut :

a. Bumi sebagai sebuah planet (The Earth as a planet).

b. Keragaman cara hidup (Varied ways of living).

c. Keragaman region alam (Varied natural regions).

d. Arti manfaat region bagi manusia (Significance of region to man).

e. Peranan lokasi dalam memahami berbagai kejadian didunia (The importance of location in understanding world
affairs)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar